15. AL GHOFFAR (Dzat Yang Maha Pengampun) Allah Ta'ala akan mengampuni sebesar apapun dosa yang dilakukan hamba-hambaNya, apabila sang hamba mau bertaubat dan memenuhi syarat-syaratnya. Yaitu : 1. Menyesal 2. Memohon ampun 3. Berjanji tidak akan melakukan dosa itu lagi 4. Berusaha dengan sungguh-sungguh untuk menepati janji tersebut. Pada dasarnya orang-orang yang melakukan dosa ada dua kemungkinan, yaitu karena bersalah dan karena tersalah. Yang dinamakan bersalah adalah melakukan dosa karena adanya niat sebelumnya (dengan kesadaran/kesengajaan). Seperti berjudi, meminum minuman keras, berzina dan lain sebagainya. Sedangkan yang dinamakan tersalah adalah melakukan dosa tanpa adanya niat sebelumnya yang dikarenakan tidak tahu atau kalah dengan hawa nafsu. Maksudnya adalah, dia telah berusaha mengendalikan hawa nafsunya dengan sekuat tenaga tetapi masih tetap kalah. Sebagai contohnya ada orang lain yang menghinanya. Dia sudah berusaha untuk bersabar tetapi tidak kuat sehingga dia-pun membalas penghinaan orang tersebut. Oleh sebab itu Allah Ta'ala sangat mudah mengampuni orang-orang yang berdosa karena tersalah. Surat An Nisa’ (4) : 17 17. Sesungguhnya taubat di sisi Allah hanyalah taubat bagi orang-orang yang mengerjakan kejahatan lantaran kejahilan, yang kemudian mereka bertaubat dengan segera. Maka mereka itulah yang diterima Allah taubatnya dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. Dosa-dosa yang dilakukan karena adanya niat (dengan sengaja), maka didalam hati tidak ada penyesalan, sehingga merasa tidak berdosa dan tidak mau bertaubat. Akan tetapi dosa-dosa yang dilakukan tanpa adanya niat (tidak sengaja), maka akan tumbuh penyesalan yang sangat besar, sehingga akan segera bertaubat. Oleh sebab itu apabila kita telah tahu dengan dosa, maka jangan sekali-kali kita berniat melakukannya. Bagi orang-orang yang beriman dan bersyukur kepada Allah Ta'ala, maka dia akan selalu berniat baik untuk menggunakan pemberian-pemberian Allah Ta'ala untuk melakukan ketaqwaan kepada-Nya (amal sholeh). Dan didalam hatinya tidak memiliki niat sedikitpun untuk melakukan dosa, karena dia malu kepada Allah Ta'ala. Yang paling penting didalam bertaubat adalah penyesalan. Karena Rasulullah SAW bersabda : “Tidak ada taubat tanpa penyesalan”. Seseorang bisa menyesal apabila dia selalu menjaga dirinya dari perbuatan dosa, sehingga apabila terlakukan dosa akan tumbuh rasa penyesalan yang sangat besar. Akan tetapi bagi orang-orang yang tidak menjaga untuk menghindari dosa, maka tidak ada perasaan menyesal didalam hatinya. Bagi orang-orang yang bertaubat dengan sebenar-benarnya, yaitu dia sangat menyesal, lalu memohon ampun, kemudian berjanji untuk tidak melakukan lagi, dan berusaha dengan sungguh-sungguh untuk menepati janjinya tersebut, maka Allah Ta'ala akan mengangkatnya ke-alam Malakut dan mengajarinya ilmu tanpa berhajat kepada seorang guru. Setiap saat kita selalu melakukan dosa, baik dosa kecil maupun dosa besar. Akan tetapi sering kali kita tidak menyadari bahwa kita telah melakukan dosa bahkan kita merasa diri sudah bersih dan suci, sehingga tidak bisa merasakan Al GhoffarNya Allah Ta’ala dan tidak mau memohon ampun kepada-Nya. Padahal andaikata setiap orang yang berdosa langsung diazab (dihukum) oleh Allah Ta’ala, maka tidak ada satu makhluqpun yang tersisa dimuka bumi. Surat Faathir (35) : 45 45. Dan kalau sekiranya Allah menyiksa manusia disebabkan usahanya, niscaya Dia tidak akan meninggalkan di atas permukaan bumi suatu mahluk yang melatapun akan tetapi Allah menangguhkan (penyiksaan) mereka, sampai waktu yang tertentu; maka apabila datang ajal mereka, Maka Sesungguhnya Allah adalah Maha melihat (keadaan) hamba-hamba-Nya. Oleh sebab itu dalam hidup ini janganlah merasa bersih dan suci, karena banyak sekali dosa yang telah kita lakukan. Akan tetapi Allah Ta’ala menangguhkan mengazab (menghukum) kita agar kita mau bertaubat. Orang mukmin yang benar, dia tidak pernah merasa dirinya sudah benar dan selalu khawatir akan dosa-dosanya dan merasa masih banyak hal-hal yang dia lakukan yang belum sesuai dengan keinginan Allah Ta’ala, sehingga dia selalu memohon ampun kepada-Nya. Dan didalam memohon ampun pasti ada proses. Maksudnya adalah, Allah Ta'ala tidak langsung mengampuni, karena setiap dosa pasti terbalas. Akan tetapi kita diberi tawaran oleh Allah Ta’ala apakah memilih dibalas didunia atau dibalas diakhirat. Jika kita memilih dibalas didunia, maka akan lebih ringan dan kita sanggup menerimanya. Bisa berupa penyakit, kesempitan rizki dan lain sebagainya. Akan tetapi jika kita memilih dibalas diakhirat, maka balasannya akan berlipat ganda (didalam neraka). Sebesar atau sekecil apapun dosa yang kita lakukan apabila mau memohon ampun kepada Allah Ta’ala serta bersungguh-sungguh untuk memperbaiki diri, niscaya Allah Ta'ala akan mengampuni. Akan tetapi terkadang dalam bathin (hati) kita ada perasaan khawatir. “Allah mengampuni apa tidak?”. Padahal apabila kita memohon ampun dengan sungguh-sungguh serta berusaha untuk memperbaiki diri dengan sungguh-sungguh pula, maka Allah Ta’ala berjanji pasti akan mengampuni. Ada dua macam kekhawatiran. 1. Khawatir Allah Ta’ala tidak mengampuni disebabkan kita tidak bersungguh-sungguh dalam bertaubat dan memperbaiki diri. 2. Khawatir Allah Ta’ala tidak mengampuni karena bisikan syetan untuk menggoyahkan keimanan kita. Oleh sebab itu hendaklah kita lihat diri kita masing-masing. Sudahkah kita bertaubat dan memperbaiki diri dengan sungguh-sunguh atau belum? Dan bagi orang-orang yang bertaubat, syetan akan memasukkan tipu dayanya : 1. Bagi orang-orang yang tidak bersungguh-sungguh dalam bertaubat dan memperbaiki diri, syetan akan memasukkan perasaan sudah diampuni oleh Allah Ta’ala. Sehingga orang tersebut selamanya dalam keadaan fasik. 2. Bagi orang yang sungguh-sungguh bertaubat dan memperbaiki diri, syetan akan memasukkan perasaan bahwa Allah Ta’ala belum mengampuni. Sehingga timbul perasaan putus asa dan tidak percaya bahwa Allah adalah Dzat Yang Maha Pengampun. Sebetulnya yang paling fatal adalah orang-orang yang tidak bersungguh-sungguh dalam bertaubat dan memperbaiki diri, tetapi dia merasa bahwa Allah Ta’ala telah mengampuni dosa-dosanya. Untuk kembali kepada Allah (bertaubat) sungguh sangat berat, karena harus melewati beberapa proses. Dan syetan selalu berusaha untuk menggagalkan. Pertama Syetan menghalangi seseorang agar tidak bertaubat. Akan tetapi apabila seseorang tersebut tetap bertaubat, maka Syetan akan menghalangi agar orang tersebut tidak memperbaiki diri, sehingga taubatnya sia-sia. Karena salah satu persyaratan taubat adalah memperbaiki diri. Sesuai surat An Nahl (16) : 119 119. Kemudian, sesungguhnya Tuhanmu (mengampuni) bagi orang-orang yang mengerjakan kesalahan karena kebodohannya, kemudian mereka bertaubat sesudah itu dan memperbaiki (dirinya). Sesungguhnya Tuhanmu sesudah itu benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Ayat ini menjelaskan bahwa yang diampuni oleh Allah Ta’ala adalah orang-orang yang melakukan dosa karena kebodohannya. Dia tidak tahu bahwa yang dilakukan adalah dosa. Dan setelah dia tahu, maka dia langsung bertaubat dan memperbaiki diri (tidak melakukan dosa itu lagi). Sedangkan bagi orang-orang yang sudah tahu dengan dosa, tetapi tetap dia langgar, berarti dia menentang Allah Ta’ala dan api neraka. Memang dalam hal ini serba salah. Apabila kita tidak mau mencari ilmu, maka kita akan celaka. Karena kita tidak mengetahui kebenaran. Dan apabila kita mencari ilmu tetapi tidak kita amalkan, maka kita juga akan celaka. Oleh sebab itu Allah Ta’ala mewajibkan kepada manusia untuk mencari ilmu dan mewajibkan untuk mengamalkan ilmu tersebut. A. Sisi Tafakkurnya Seberapa banyak nikmat-nikmat Allah Ta’ala yang kita pergunakan untuk menambah ketakwaan kepadaNya? Dan seberapa banyak nikmat-nikmat Allah Ta’ala yang kita pergunakan untuk memenuhi kebutuhan hawa nafsu, sehingga kita berdosa? Dan seberapa banyak kita telah bertaubat kepada Allah Ta'ala? karena Allah Ta'ala hanya akan mengampuni orang-orang yang mau memohon ampun kepada-Nya. Walau sebesar apapun dosa sang hamba Allah Ta'ala akan mengampuni, yang penting dia mau bertaubat dengan nashuha. B. Contoh Do’a Dari Sisi Keimanan Ya Allah, ampunilah dosa-dosa kami (dosa yang kita lakukan harus kita rinci. Jangan sampai kita bertaubat secara global, karena tidak akan muncul rasa penyesalan). Kami menyesal ya Allah, dan kami memohon ampun kepada Engkau atas dosa tersebut. Ya Allah, aku berjanji tidak akan pernah lagi melakukan dosa tersebut. C. Sikap Orang Beriman Orang-orang yang beriman sangat yakin bahwa Allah Ta'ala Maha Pengampun sebesar apapun dosa yang dilakukan hamba-hambaNya, apabila hamba-hambaNya bisa memenuhi syarat-syaratnya. Oleh sebab itu jangan sekali-kali kita berputus asa dari rahmat Allah Ta'ala. Yang penting kita selalu menjaga untuk menghindari perbuatan dosa, dan apabila tersalah segera memohon ampun. Karena berputus asa dosanya lebih besar dari pada dosa yang kita lakukan. D. Sikap Orang Bertaqwa Walaupun Allah Ta'ala mengampuni dosa sebesar apapun, tetapi orang-orang yang bertaqwa tidak ada keinginan sedikitpun untuk melakukan dosa. Dan apabila tanpa sengaja dia terlakukan dosa, maka penyesalan yang ada didalam hatinya sangat besar, setelah itu dia segera bertaubat dengan sungguh-sungguh dan memperbaiki diri dengan sungguh-sungguh pula. Karena apabila rasa penyesalan itu hilang, maka syarat taubat tidak terpenuhi dan taubat tidak akan diterima oleh Allah Ta'ala. Sebanyak apapun seseorang memohon ampun kepada Allah Ta'ala, tetapi tidak ada penyesalan didalam hatinya, maka tidak ada guna sedikitpun. Dengan kata lain taubatnya sia-sia belaka. Seharusnya didalam kehidupan ini kita tidak perlu berfikir tentang besar atau kecilnya dosa. Akan tetapi yang perlu kita fikirkan adalah kepada siapa kita berbuat dosa. Walaupun dosa itu kecil, tapi kalau kita merasa telah berbuat dosa kepada Allah Ta'ala yang menciptakan kita, yang mencukupi segala kebutuhan kita, yang membimbing kita, yang akan membangkitkan kita dan yang akan mengadili kita diakhirat kelak, maka sekecil apapun dosa adalah besar. Orang-orang yang bertaubat tetapi tidak mau berjanji kepada Allah Ta'ala, maka sulit sekali dia bisa memperbaiki diri? Dan jika tidak bisa memperbaiki diri, mana mungkin Allah Ta'ala akan mengampuni? Karena taubat harus disertai dengan perbaikan diri. Orang yang menyesal dari perbuatan dosa hanyalah orang-orang yang beriman, karena dia takut dihari akhir nanti akan mendapatkan balasan dari Allah Ta'ala. Sedangkan orang-orang yang fasik tidak akan pernah merasa menyesal sehingga tidak mau bertaubat. Karena tuhannya bukan Allah Ta'ala melainkan hawa nafsu. E. Contoh Do’a Dari Sisi Ketaqwaan Ya Allah, berikanlah pertolongan kepada kami agar kami mampu menahan hawa nafsu kami untuk tidak lagi melakukan dosa yang sama. F. Sikap Orang Bertawakkal Orang-orang yang bertawakkal apabila dia telah memohon ampun kepada Allah Ta'ala dengan memenuhi syarat-syaratnya, kemudian dia serahkan sepenuhnya kepada Allah Ta'ala, dengan satu keyakinan bahwa Allah Ta'ala akan mengampuni dosa-dosanya. Dengan kata lain apabila dia telah memenuhi syarat-syarat taubat, maka dia sangat yakin bahwa Allah Ta'ala pasti akan mengampuni dosa-dosanya. Karena ini adalah janji Allah Ta'ala dan Dia tidak pernah ingkar janji. Dan salah satu tanda dosa seorang hamba telah diampuni adalah : “Tidak mau melakukan dosa itu lagi”. G. Sikap Orang Mukhlis Apabila dia telah bertaubat dengan sebenar-benarnya, kemudian Allah Ta'ala membalas dosa-dosanya didunia, maka dia akan menerimanya dengan ikhlas dan sangat senang. Karena setiap dosa pasti akan dibalas oleh Allah Ta'ala, apakah akan dibalas didunia atau dibalas diakhirat. Apabila telah dibalas didunia, maka diakhirat kelak tidak dibalas lagi. Dan balasan didunia jauh lebih ringan dibandingkan dengan balasan diakhirat. H. Sikap orang-orang yang telah meneladani Asma’ Al Ghaffar Apabila ia telah menjadi kholifah, ia akan mudah mengampuni kesalahan orang lain, walaupun kesalahan orang tersebut begitu besar. Ini sebagai pencerminan bahwa Allah Maha Pengampun, sedangkan ia hanya sebagai hamba tidak layak untuk tidak mengampuni. Oleh sebab itu ia akan merasa malu andaikata tidak mengampuni orang-orang yang telah berbuat salah kepadanya. Karena Allah Ta’ala saja yang menunjuk ia sebagai kholifah-Nya adalah Dzat Yang Maha Pengampun. Sehingga orang yang telah berbuat salah tersebut tidak berputus asa dari pengampunan dan rahmat Allah Ta’ala. Didalam hidup ini jangan sampai kita menjadi syafaat buruk bagi orang lain didalam memohon ampun kepada Allah Ta’ala, yaitu dengan mempersulit orang lain didalam memberikan maaf. Sejahat atau seburuk apapun manusia, berilah dia kepahaman bahwa Allah Ta'ala adalah Dzat Yang Maha Pengampun. I. Contoh do’a bagi yang ingin meneladani Asma’ Al Ghaffar Ya Allah, jadikanlah kami perantara-perantaraMu yang menjadikan jalan bagi hamba-hambaMu untuk bertaubat kepada-Mu. Agar mereka dapat melihat bahwa sesungguhnya Engkau adalah Dzat Yang Maha Pengampun.